(NUR SALASIA}

بسم الله الرحمن الرحيم

TIADA SATU NAFAS PUN TERLEPAS DARIPADAKU MELAINKAN DI SITU PULA ADA QADAR YANG BERLAKU DI ATAS MU, karena hakikat nafas itu adalah penyatuan antara pencinta dengan yang dicintai, inilah yang dikatakan makna sholat yang berkekalan, sebab sholat itu adalah MIKRAJNYA bagi orang yang mukmin, maka dari itu ikutilah gerak nafasmu sampai kepada yang dicintai yaitu Allah, inilah peringkat yang terpuji karena pada peringkat inilah yang dikatakan : "SHOLATLAH ENGKAU KEPADA DIRIMU SENDIRI, SEBAB YANG ADA PADA DIRIMU HANYALAH PENYEMBAHAN PADA DIRIMU, TIADA LAIN DIRIMU ITU MELAINKAN DIRIKU JUA ADANYA"
============================
Maksudnya ialah tukarlah arah pandanganmu atau hadapmu dari Kiblat Kaabah kepada yang Haq, lakukan ini semasa turun naiknya Nafas, ITULAH SHOLAT YANG BERKEKALAN, maka dari itu turun naiknya nafas mu disebut dengan "ASH0LATU DAIMULHAQ" maksudnya adalah SHOLAT DIAM tetap tanpa gerakan, dilakukan terus menerus sepanjang hidup, itu jugalah yang disebut SHALAT ABADI karena menuju ALAM KEABADIAN
============================
NIATNYA dalam hati mu adalah SH0LAT DAIM UNTUK SELAMA HIDUP, karena BERDIRI itu adalah hakikatnya HIDUPmu, RUKUK itu adalah hakikatnya PENGLIHATANmu, IKTIDAL itu adalah hakikatnya PENDENGARANmu, SUJUD itu adalah hakikatnya PENCIUMANmu, BACAAN AYAT itu adalah hakikatnya UCAPANmu, DUDUK itu adalah hakikatnya IMANmu, PUJIAN itu adalah hakikatnya KELUAR MASUK NAFASmu, DZIKIR itu adalah hakikatnya INGATANmu, KIBLAT itu adalah hakikatnya RENUNGANmu, jadi FARDHU itu adalah hakikatnya MENJALANKAN YANG WAJIB LANTARAN KUDRATku, PASRAHnya engkau KEPADA DZATku yang maha HIDUP, KARENA YANG DEMIKIAN ITU TELAH BERDIRInya engkau PADA ZAT, SIFAT dan PERBUATANku
============================
inilah Al Qur'an sejati, sebagai tanda HAKIKAT semua SH0LAT, inilah HAKIKAT SH0LAT DAIM yakni sholat yang sejati, tanpa dihalangi waktu, tidak mempunyai hitungan rakaat, SH0LAT DAIM inilah yang boleh sambil kerja, duduk dengan berdiri, berdiri dengan duduk, lari dengan berhenti, membisu dengan bercerita, bepergian dengan tidur, tidur dengan terjaga seperti itulah ibaratnya, sebab HAKIKAT SH0LAT DAIM itu tanpa SUJUD dan RUKUK, yakni hanya berada dalam RASA HIDUPmu semata
============================
Inilah Sholatul Daim yang dinamakan Sholat yang berkekalan, Wahdah Fil Kasrah yaitu pandang satu kepada yang banyak, maka yang dinamakan Nafas itu yang keluar masuk daripada mulut, maka yang dinamakan Nupus itu yang keluar masuk daripada hidung, maka yang dinamakan Tanapas itu yang keluar masuk daripada telinga, maka yang dinamakan Ampas itu yang keluar masuk daripada mata, maka Napas itulah yang menuju kepada HAQ, karena itu hendaklah engkau ketahui Ilmu Nafas, yaitu Ilmu Ghaibul Ghuyub, karena itu adalah salah satu daripada ibadahnya Muhammad
============================
Nafas masuk HU-Muahammad, Nafas tertahan HU-Ahmad, Nafas keluar HU-Ahad, Maka amalan inilah yang dinamakan Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah, dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah, Dari Allah mengerakkan Ruhaniah,dari ruhaniah mengerakan Al-Hayat, dari Al-Hayat menggerakkan nafas dan dari nafas menggerakkan jasad dan pada hakikatnya itu Allah jua yang menggerakkan sekaliannya sebagaimana firmaNya: “Ya Muhammad, bukanlah engkau yang melontar ketika engkau melontar, akan tetapi Allah lah yang melontar ketika engkau melontar"
============================
Jadi pada pandangan dzahirnya perbuatan hamba, tetapi pada pandangan mata hati adalah perbuatan Allah jua adanya, itulah yang dikatakan hubungan antara hamba dengan Allah dan Allah dengan hamba ialah umpama matahari dengan cahaya yang tidak bersekutu atau bersatu dan tidak bercerai antara cahaya itu dengan zat matahari, Cahaya itu bukan matahari dan bukan lain daripada matahari, Contoh yang lain pula seperti api dengan asap, asap itu menunjukkan adanya api dan asap itu bukan api dan tidak lain daripada api yang tidak bercerai dan tidak bersekutu, begitulah juga hamba dengan Allah, tidak bercerai dan tidak bersatu, maka ketika itu akal kita akan berkata: "Alangkah ajaibnya, bagaimana boleh berhimpun kedua-duanya (hamba dengan Allah) yang berlawanan padahal kedua-duanya tidak sah berhimpun antara satu sama lain." Sebagaimana di isyaratkan Nabi Artinya: "Tidak bercerai antara nafi dan isbat, siapa yang menceraikannya kafir, siapa yang menyatukanNya kufur"
============================
Kata pepatah: "Tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak dekat, tak dekat maka tak belajar, tak belajar maka tak mengerti, tak mengerti maka tak paham, tak paham maka tak mengetahui, tak mengetahui maka tak berkata, tak berkata maka tak merasa, tak merasa maka Lenyaplah manusia, karena Rasa dirasa adalah sama, tidak terpisah dari dahulu kala, hanya nafsu menutup pintunya, sungguh Dia telah lama bertahta disana, dicarinya Dia jauh dibalik gunung, tidak disadari dirinya meraung, menjerit-jerit minta di tenung, supaya bertemu kekasih yang dikandung"
------------
KESEMPURNAAN DIRI
-----------------------------
Ketahui RAHASIA ini : “Barang siapa tidak mengetahui tentang ilmu pernafasan maka dia tidak akan mengetahui, Syahadat, Istinja, Junub dan janabat”
__________________________________
Walaupun dia ahli Fikih.. ahli Tauhid.. ahli Tasawuf.. kalau masih belum mengenal ilmu hakekat diri yang asli yaitu “turun naik nafas” , dan masih berpegangan kepada nama dan bacaan maka masih belum sempurna ilmunya yang Haq
__________________________________
“MAN ABDAL ISMU’U NAL MA’NA FAHAU KAFIRUN” Barang siapa menyembah Nama tiada mengetahui yang punya nama orang itu kafir
__________________________________
“MAN ABDAL ISMU’U NAL MA’NA FAHUA BATILUN”
Barang siapa menyembah nama tiada mengetahui nama hukumnya batil yaitu sia-sia belaka
__________________________________
Jadi bukan nama, bukan bacaan namun yang lebih wajib adalah hakekat asal kejadian diri kita yang sebenar-benarnya
__________________________________
Ketahuilah RAHASIA ini : "Ujud Allah yaitu nafas yang LAISA, tidak ada umpamanya, Karena Allah itu hanya nama kebesaran diri nabi kita MUHAMMAD S.A.W"
__________________________________
Kita harus sungguh-sungguh mengenal diri dzahir dan batin, Barang siapa tidak mengenal Allah dari awalnya.. Barang siapa tidak mengenal Allah dari akhirnya… Barang siapa tidak mengenal Allah dari dunia dan akhirat.. Barang siapa tidak mengenal Allah dari hidupnya.. Niscaya tidak mengenal juga di negeri akhirat
__________________________________
Apabila kita mampu Mengenal Diri kita yang sebenar-benarnya, maka kita tidak terdindingi dengan Nabi kita MUHAMMAD S.A.W. karena tiada lain diri kita bertubuh NUR MUHAMMAD dzahir dan bathin
__________________________________
Barang siapa kenal dengan dirinya tentu kenal dengan Rasullullah S.A.W. PASTI, akan melihat kebesaran Jalal dan Jamalnya Rasullullah S.A.W
Itulah nama kebesaran ALLAH yang disebut SUBHANAHUWATA’ALA, Yang tidak lain adalah diri “HU.. “ diri nabi kita Muhammad S.A.W, Itulah yang sebenarnya LAISA bernama HUAJIBUL UJUD
__________________________________
"yang dikatakan laisa kamislihi itu sudah jelas, pandang yang banyak pada yg Esa.. pandang yang Esa pada yang banyak.. bukan dengan pandanganmu.. namun pandangan-Nya..bukan dengan rasamu namun dengan rasa-Nya"
__________________________________
Kosong itulah yang disebut LAISA yang bernama Wajibul ujud, Tajjali sendiri menjadi Nur Muhammad bernama titik zarrah, Dari titik menjadi Alif yaitu terjadinya alam semesta
__________________________________
Kosong nafas turun menahan itulah kesempurnaan syahadat, adanya denyut kita, Titik adalah rahasia Nabi kita ‘Nur Salasia’ yang ter-rahasia yaitu : Dua nama satu wujud, yaitu rahasia titik dan kosong itulah adanya, Alif waktu keluar nafas kita, kodrat dan iradatnya, bernama Allah Ta’ala, semata-mata asma dan af’al
__________________________________
Kembali dari asalku (dzahir dan batin), Asal Alif dari pada bapak (Hak Allah), Jadi tubuh kita HAKULLAH (sudah diterima oleh ibu), Kenyataannya, nama dan yang punya nama memuji nama, Jadi yang berkata dan yang bersuara ‘Nur Salasia’ Itulah nama Allah yang ter-rahasia, Itulah yang menggenapkan 99 nama Allah menjadi 100
__________________________________
ALLAH adalah Kalamullah dan Qadim.. MUHAMMAD adalah kamulah dan qadim.. Dua nama tidak terpisah.. satu kesatuan
__________________________________
Kalau dua nama dikatakan terpisah,
Maka.. Binasalah akidahnya.. Binasalah imannya.. Binasalah islamnya.. dan binasalah ihsanya…
__________________________________
akan termasuk orang yang jahil… juga Yang mengatakan Nur Muhammad Muhadast
Binasalah amalnya, Binasalah segala perbuatannya.. Beribadah seperti musyrik saja..
__________________________________
Maka.. Sangat perlu dipahami lagi, Hakekatnya dua nama itu dua wujud atau satu wujud…?
__________________________________
Bahwa, HU… Didalam ilmu Makrifat dinamakan ISMUL JALALLAH, yaitu nama tentang keadaan Maha Tunggi yang awal-awal telah ada dengan sendirinya, yaitu yang LAISA adanya.
__________________________________
Bahwa, HU.. Didalam Ilmu Hakekat bermakna tentang keadaan yang Maha Esa yang awal-awal telah ada.
__________________________________
Bahwa, HUWA.. Adalah diri Muhammad (AHMAD)
yang awal-awal telah ada yakni Al Insanul Kamil yang Maha Suci.
__________________________________
Keadaan Allah yang sebenarnya ini sungguh-sungguh sangat dirahasiakan, Bahwa Allah hanya nama Kebesaran Puji bagi Al Insanul Kamil … “AINUL MUHAMMAD” Berpeganglah pada pendirianmu… tetap… jangan berubah lagi.. sampai akhir hayat.
__________________________________
Yang menjadi pokok pembahasan ilmu Makrifat pada mulanya adalah dari surah Al-Iklas
“QULHU ALLAHU AHAD…” Dimaknakan mejadi :
“Katakan hai Muhammad Allah itu Esa” Dari makna inilah timbul pendapat bahwa Muhammad Rasulullah itu manusia biasa, atau pesuruh Allah di dunia untuk menyelamatkan manusia dari pada kemusyrikan dan kemunafikan.
__________________________________
QUL + HUWA = berkata HUWA domirnya ialah ANTA, kalau Anta tidak ada maka tidak ada yang menyatakan : “Qulhu Allahu Ahad”
__________________________________
Maka, Anta dalam Ilmu Makrifat ada dua makna yaitu :
-
1. Anta yang Dzahir
2. Anta yang Batin
__________________________________
Adapun Anta yang dzahir adalah Al Insan Nabi kita Muhammad SAW, maka insan itu adalah alat komunikasi atau sebagai jarum jam diri orang Mukmin yang bergerak setiap detik, Tiada huruf dan tiada suara, di ingat tidak di ingat, bergerak terus memuji DiriNya sendiri, 1X24 jam = 28.000 pujiNya, di ingat atau tidak di ingat
__________________________________
Adapun Anta yang Batin yakni Sirrul Insan adalah Muhammad SAW jua, maka HUWA dan ANTA hanya satu saja yaitu Huwa Muhammad atau Huwa Ahmad, Anta Muhammad dinamakan Mubtadi yaitu kalimat yang menjadi pokok perhatian di dalam Ilmu Makrifat
__________________________________
Dan Allah itu dinamakan Kabar Awal yaitu Kabar pertama menerangkan tentang keadaan HUWA, Sedangkan Allah (Tuhan) kabar yang umum pada yahudi dan nasranipun memakainya, namun Al-Quran menerangkan dengan kalimat : “WAMA HUM BI MU’MININ” Dan tiadalah mereka itu orang yang beriman”
__________________________________
Sebenarnya karena mereka tidak yakin dengan kalimat syahadat : “WA ASHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH”
__________________________________
Tahukah kalian…, Bahwa didalam kitab Nasrani sekarang nama Allah sangat banyak disebutkan, demikian pula “HU” ada 6000 lebih banyaknya.
Dan bagi kita, kitab itu tidak bisa di imani karena nama nabi Muhammad SAW telah di hilangkan
__________________________________
Maka demikian juga bila kita ada mengenal ilmu batin yang hanya mengenal Allah saja dan tidak mengenal Nabi Muhammad SAW, itu sama saja dengan ilmu batinnya Yahudi dan Nasrani
__________________________________
Ingat ..!!
-
Bukan kita menghilangkan nama Allah sama sekali, bahwa Allah tetap ada, namun yang dikenal dengan Allah hanya Rasulullah SAW.
__________________________________
Inti Makrifat adalah mengenal diri yang sebenar-benarnya, Bahwa kita berasal dari Allah (Qadim) kemudian kembali kepada Qadim (Allah), dengan kalimat : INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROJI’UN
__________________________________
3 faktor penting dalam Makrifat adalah :
-
PERTAMA :
La ta’yin = Belum ada ketentuan
Ahadiyah = Maha Tunggal
Dzatul Buhti = Dzat yang kekal
-
Penjelasan :
Disini Allah di umpamakan laut yang tiada bergelombang.. Dia-lah Tuhan yang maha suci dan maha tinggi, tiada martabat diatasNya lagi.
Bahwa manusia sudah ada sejak dahulu dan tiada terpisah dengan Tuhannya, Bahwa kita sudah berada dalam rahasia Allah SWT, namun karena Allah belum ada nampak maka kita belum juga di tampakkanNya, jadi sejak La ta’yin manusia sudah tetap dalam rahasia Allah tetapi belum ada pengakuan apa-apa karena belum nampak dan belum ditampakkan
__________________________________
KEDUA :
Ta’yin awal = Ketentuan yang pertama
Wahdah = Tunggal
Hakekatul Muhammadiyah = Asal mula segala yang ada
-
Penjelasan :
Disini Tuhan telah menampakkan diriNya, maka ditampakkan-Nyalah manusia itu dahulu (titik) didalam dirinya sendiri seraya melihat dan berkata : ALASTU BIRABBIKUM? Maka di jawab dengan : BALA SYAHIDNA
Setelah pengakuan ini terjadi maka Tuhan berkata : “Saat ini Aku akan mengambil empat anasar dari tubuhmu Ku jadikan alam agar engkau menetap kelak”, maka kita menjawab dengan kalimat : ‘LA HAULA WALA KUATA ILLABILLAH’
-
Setelah itu diambillah :
– Dari Rahasia dijadikan Api
– Dari Ruh dijadikan Angin
– Dari Hati dijadikan Air
– Dari Tubuh dijadikan Tanah
-
Maka jadilah Alam semesta dengan segala isinya,
Selanjutnya “titik” itu mengembang menjadi banyak, tumbuh dan besar menjadi ALIF.
__________________________________
KETIGA :
Ta’yin tsani = Ketentuan kedua
Wahdiyah = Mentauhidkan
Hakekatul Adam = Asal mula manusia
-
Penjelasan :
Bahwa Alif pada Dzat menyelubungi semua rahasia yang ada, Disini Allah seumpama laut dengan gelombangnya, sesungguhnya Allah SWT Tuhan yang maha suci lagi maha tinggi diumpamakan laut, sedangkan semua yang ada diumpamakan gelombang, adapun gelombang itu tiada terpisah dari laut adanya.
-
Bahwa : Ketiga martabat diatas semuanya adalah Qadim, Yang terdahulu atau terbelakang hanya lah sebutan saja, bukan karena waktu. Ketika kita mengatakan Ahdah (maha tunggal), Wahdah (tunggal), Wahdiyah (menunggalkan Atau.. Ketika kita mengatakan La Ta’yin (belum tentu), Ta’yin awal (sudah tentu), Ta’yin tsani (ketentuan berikutnya) Maka.. Ketiga martabat itu semua adalah Qadim.
-
Sedangkan yang awal dan yang akhir hanya perkataan saja, bukan karena waktu namun karena sesungguhnya laut yang tiada bergelombang, disitu juga terdapat satu gelombang (titik), maka dari titik itu berkembang menjadi banyak, itulah yang dinamakn ALIF, pada hakekatnya satu saja namun tiga dalam sebutan.
__________________________________
Mengertilah akan hal ini betul-betul.. Jadikan dasar pegangan dalam hati sanubari, Bahwa tiada terpisah kita dengan Allah SWT, Dari awal yang tiada berawal hingga akhir yang tiada berakhir, Inilah satu pemahaman Makrifat yang sempurna,
__________________________________
Nur Salasiah itulah yang benar-benar LAISA, Nur yang awal-awal muncul karena kedzahiran nabi Muhammad SAW yang luar biasa, semata-mata hanya ikhtibar bagi kita umat Rasulullah SAW. “Aku adalah seperti kamu jua..” ini perkataan ikhtibar saja, Rasulullah SAW itu ‘U’ Ahad
__________________________________
Ke dzahiran kita manusia Muhammad namanya, Laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, tiada lain adalah dari satu titik noktah, Itulah yang dikatakan satu kesatuan, Itulah ujud hakiki Rasulullah SAW Sudah Nampak..? jangan di pahami lagi
__________________________________
HU awal mula mengucap, HU nikmat awal terjalin, HU ma’nikam asal aku jadi, Muhamad aminullah nama tuhanku, Muhammad rasulullah nama nyawaku, Muhammadiah nama hambaku, Wujud-berwujud wujud Allah
__________________________________
MUHAMMAD ….
-
MIM = Wal Mim ul awwalu yadullu nara siha
HA = Wal Ha ul yadullu ala dzohiri
MIM = Wal Mim us tsani yadullu ala surati
DAL = Wad Dallu yadullu ala qoda mihi
__________________________________
HU …… Awal nabi kita Muhammad SAW atau yang LAISA mengucapKan nama “ALLAH”
-
ALIF = ibarat Dzat kepada nabi kita, itulah Rahasia yang tersirat bernama Muhammad Aminullah
-
LAM AWAL = ibarat Sifat kepada nabi kita, itulah Nyawa yang bernama Muhammad Rasulullah
-
LAM AKHIR = ibarat Asma kepada nabi kita, itulah Hati yang bernama Muhammad Nurani
-
HA = ibarat Af’al kepada nabi kita, itulah Rupa yang bernama Muhammad Jasmani
__________________________________
Pandanglah ke dalam.. Kembalikan.. Tidak lain satu kesatuan adanya.. Apa jua pun… Karena, Dzat Allah gaib pada alam Ruh, Sifat Allah gaib pada alam Misal, Asma Allah gaib pada alam Ajsam, Af’al Allah gaib pada alam Insan
__________________________________
Dan, Dzat Allah pada alam Ruh bernama Nur, Sifat Allah pada alam Misal bernama Ke-dzahiran, Asma Allah pada alam Ajsam bernama Mu-dzahir, Af’al Allah pada alam Insan bernama Manusia
__________________________________
Ingatlah.!!
-
Kesemuanya tiada bercerai dari pada asal.. Maujud-lah Dzat-Sifat-Asma-Af’al, itulah MUHAMMAD, Kuasa sendirnya, Wujudnya Makrifat, Lakunya Suci, Jalannya SEMPURNA, Tempatnya halus, Sifatnya Syukur,
__________________________________
Hendaklah jangan perkataan ini diasa-asakan lagi, Jangan pula tanyakan pada sembarang orang, Belajarlah pada ahlinya agar bertambah IMAN di dada dan SEMPURNA ilmunya.
__________________________________
Nafsiah, Salbiyah, Ma’ani, Ma’nawiyah, Jalal, Jamal, Kohar dan Kamal, itulah adanya kesempurnaan Sifat 20, Itulah yang sebenar-benarnya menerangkan tentang ke-LAISA-an diri nabi kita Rasulullah SAW, yaitu diri ‘HU’
__________________________________
20 Sifat dipecah menjadi satu, 19 (Sembilan belas) Sifat kepunyaan Haq Tuan Nabi SAW yang LAISA, tajjalinya Dzat Hua jibul ujud (bernama Allah) yang sebenarnya Nur Muhammad SAW jua pelakunya.
__________________________________
1 (satu) tersedia pada diri kita yaitu ujud ada mustahil tidak ada, maksudnya adanya nafas kita yaitu ALIFULLAH yang tesedia pada diri seluruh manusia
__________________________________
Takbiratul Ihram, adalah saat dimana kita memesrakan nama Nabi kita Muhammad SAW yang di dalam diri, yang meliputi seluruh tubuh kita, bernama yang hidup tiada lain Dzat Hayyun, yaitu nafas yang keluar masuk, Dari Sifat 20, himpun sifat Salbiyah, diperkecil menjadi sifat Ma’ani atau sifat 7, kembali sifat 7 waktu mesranya menjadi empat nasab saja yaitu : pendengaran, penciuman, penglihatan, pengrasa
Pendengaran nur, penciuman nur, penglihatan nur, pengrasa nur himpun menjadi SATU RAHASIA semua, Himpun lagi terakhir ujud ada mustahil tiada
__________________________________
Setiap orang sudah berada pada jalurnya, dan setiap jalur menurut pandagan orang tersebut adalah benar, ini tidak berbicara salah dan benar, karena setiap orang pasti akan memandang lurus pada jalur yang di laluinya.
__________________________________
Adanya jalur karena adanya kehidupan, berpeganglah kepada hidupmu, hidup itulah Nyawa, Nyawa itulah MUHAMMAD, jangan engkau ragu dengan jalurmu.
__________________________________
LA ILAHA ILLA ALLAH
LA = Hidup
ILAHA = Ruh
ILLA = Nafas
ALLAH = Nyawa
-
Inilah peganganmu, Jangan cari lagi..

[MENGKAJI RAHASIA HURUF - MUHAMMAD NUR]

بسم الله الرحمن الرحيم
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""'"
Awalnya huruf itu hanya melambangkan sebuah rumus yang tidak memiliki arti apa-apa
--------------------------------
Kemudian..
Huruf disusun menjadi sebuah kata, susunan kata menjadi sebuah kalimat dan dalam kalimat mengandung sebuah pengertian
tetapi..
“Pengertian itu bukanlah sebuah kalimat..!!”
--------------------------------
Dahulu,
sebelum ada kesepakatan manusia mengenai Rumusan Huruf..
--------------------------------
Maka.. Huruf adalah sebuah artikulasi yang keluar dari dorongan udara yang terhalang oleh pita suara pada tenggorokan, sehingga menghasilkan suatu bunyi…
Seandainya rumus-rumus itu tidak ada..
Maka Huruf dan Kata dan Kalimat pun tidak ada, …
--------------------------------
Namun..
Walaupun rumus-rumus dan huruf-huruf tidak ada..,
Tapi.. Hakekat pengertian dalam diri manusia tetap ada.
--------------------------------
Kita bisa menemukan bahasa yang sama pada diri manusia seluruh dunia yaitu BAHASA JIWA, yang..
Tidak berhuruf..
Tidak bersuara,..
Tidak bergambar…
--------------------------------
Maka.. benarlah adanya jika demikian bahwa AL-QUR'AN itu awalnya adalah bahasa WAHYU (Bahasa ALLAH)
--------------------------------
“LA SHAUTIN WALA HARFUN”
“Tidak berupa suara dan bukan berupa huruf”
--------------------------------
Yang kemudian di-translate kedalam bahasa manusia yaitu Bahasa Arab.
--------------------------------
Saat itu..
Rasulullah hanya mengerti dengan jelas apa yang telah turun kedalam jiwanya.
Bahasa ALLAH itu berupa ILHAM atau WAHYU
--------------------------------
Menurut kamus bahasa Arab dalam Munzid, ILHAM itu berarti memasukkan pengertian kedalam JIWA seseorang dengan cepat.
--------------------------------
Dimasukkan dengan cepat = dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan ke dalam JIWA dalam sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul fikiran dan muqadimahnya, …
--------------------------------
Seperti sesekor lebah..,
Ketika menerima WAHYU dari ALLAH , binatang itu tidak mengenal huruf, akan tetapi.. Lebah mampu menangkap ajaran ALLAH ..
--------------------------------
ketika ALLAH meng-instruksi-kan untuk membuat rumahnya, maka lihatlah bagaimana Lebah membuat rumah yang indah dan tersusun rapi.
--------------------------------
PENGERTIAN itu tidak terdiri dari rangkaian huruf atau suara..
--------------------------------
Seperti perasaan CINTA..
Perasaan ini tidak tertulis huruf C-I-N-T-A. Walaupun anda tidak menggunakan rangkaian huruf dan suara mengapa anda memahami cinta itu ??
--------------------------------
Yang akhirnya anda menterjemahkan kedalam bahasa manusia menjadi aku cinta ….
Selanjutnya..
Setelah anda mengerti uraian diatas..
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Maka mari-lah kita membahas mengenai Rahasia Huruf dalam AL-QUR'AN:
--->
AL-QUR'AN mengandung 6666 ayat, Terhimpun dalam AL FATIHAH Dan AL FATIHAH pula terhimpun dalam BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM
Dan BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM terhimpun dalam ALIF
Sedangkan ALIF terhimpun dalam BA’ Dan BA’ terhimpun pada TITIK/ NOKTAHnya.
--------------------------------
Pada TITIK/NOKTAH inilah AWAL MULA semua kejadian bentuk huruf….
--------------------------------
Jadi..
Pada seluruh rangkaian firman sebanyak 30 juz itu ternyata terangkum dalam Ummul QUR’AN (AL FATIHAH).
--------------------------------
Pada Ummul QUR’AN (AL FATIHAH). menyimpulkan inti ajaran AL-QUR'AN :
--->
Tentang masalah Ketuhanan yaitu Sifat, Af’al dan Zat Allah…
--------------------------------
Dia-lah Allah yang memiliki Sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang.., Tidak ada yang berhak menyandang pujian kecuali Dia. Dia- lah tempat segalanya bergantung.., Karena Dia adalah penguasa alam semesta dan diri manusia
--------------------------------
Berarti rangkaian ayat-ayat dalam AL FATIHAH tertumpu pada huruf BA’ (dalam tata bahasa Arab sebagai BA’ Sababiyah)
--------------------------------
Artinya..
Semua yang ada berasal dari huruf BA’ dengan sebab Ismi/ Nama.
--------------------------------
Kalau di pisah BI- ISMI- ALLAH
Semua yang ada karena adanya Asma, Pada Asma terdapat yang memiliki Asma yaitu Dzat, Ini terangkum dalam arti TITIK, Huruf BA’ .. akan tidak bermakna apa-apa jika tidak mempunyai TITIK,
--------------------------------
Maka.. pada TITIK itulah Rahasia dari segala Rahasia ini di mulai..
Karena TITIK baru bersifat KUN (jadilah) maka terjadilah segala sesuatu.
--------------------------------
Karena KUN-NYA yang dilambangkan dengan TITIK, merupakan asal dari segala coretan huruf berasal dari titik-titik yang beraturan sehingga menjadi garis dan garis menjadi bentuk atau wujud.
--------------------------------
Sedangkan Zat tidak berupa titik, karena titik masih merupakan sifat dari pada DzAT.
--------------------------------
Artinya..
KUN ALLAH bukanlah DZAT.
Karena KUN ( KALAM atau WAHYU ) adalah sifat dari pada Dzat, (bukan Dzat itu sendiri) Sehingga arti TITIK adalah akhir dari segala ciptaan, HURUF yang berTITIK menjadi NYAWA bagi AL-QURAN itu sendiri.
--------------------------------
Pada TITIK ini terkandung ide-ide yang akan tergores suatu bentuk dan pada wilayah inilah yang dimaksud dalam Ilmu Hakekat Usul Diri sebagai NUR MUHAMMAD (Cahaya Terpuji),
--------------------------------
Karena segala sesuatu akan memuja dan mengikuti kehendak Dzat, Dan Dzat berkata melalui KUN-NYA, maka jadilah semuanya.
__________________________________
AL-QUR’AN DALAM DIRI MANUSIA
Di dalam AL-QUR'AN ada 2 ayat yang jelas-jelas menyebutkan bahwa AL-QUR'AN itu di turunkan oleh ALLAH di dalam diri manusia dengan menggunakan istilah HATI dan DADA.
--------------------------------
Pertama :
Surah Al-Baqarah ayat 97.
“Man kaana ‘aduwwan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘alaa qalbika bi-idznillaahi mushaddiqan limaa bayna yadayhi wahudan wabusyraa lilmu’miniin.”
--------------------------------
Katakanlah : “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya ( AL-QUR'AN ) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
--------------------------------
Kedua :
Surah Al-Qiyamah ayat 16.
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan AL-QUR'AN (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
--------------------------------
Telah kita ketahui bersama bahwa :
AL-QUR'AN itu terbentuk dari titik kemudian menjadi huruf dan seterusnya menjadi ayat yang ber-jumlah 6666 ayat dan menjadi panduan hidup manusia… kemudian… di masuk-kan pula oleh Allah ke dalam diri manusia
--------------------------------
Pada kesempatan ini mari-lah sama-sama kita coba untuk mengkaji maksud sebenar-nya ayat di-atas karena ayat tersebut sangat JELAS dan MUDAH untuk di-pahami,
--------------------------------
Yang menjadi persoalan-nya sekarang ialah..
--------------------------------
AL-QUR'AN yang mana-kah yang di-maksud itu ?
--------------------------------
AL-QUR'AN itu sudah berada di dalam hati manusia (Al-Baqarah 97)
--------------------------------
AL-QUR'AN itu sudah berada di dalam dada manusia (Al-Qiyamah 16)
…… sebaiknya tidak perlu di-perdebatkan lagi ….!!
--------------------------------
Namun…
Siapa-kah AL-QUR'AN itu..?
Setiap apa yang di katakan AL-QUR'AN itu adalah Qadim (Kalam Qadim) ini ber-arti AL-QUR'AN itu bersifat Qidam.., Jika ia bersifat Qidam maka AL-QUR'AN bukan-lah Muhadas (yang baru)
--------------------------------
Sebab..
Yang baru itu adalah makhluk yang di-ciptakan-NYA dan yang di-cipta-kan jika ia ber-bentuk Roh maka jelas ia makhluk..
--------------------------------
Pandangan sebagian Ulama mengatakan bahwa AL-QUR'AN itu adalah Qadim yaitu : Awal tiada permulaan.
--------------------------------
Artinya ..
Kalam yang Qadim yang menjadi Hak ALLAH, Jika ia menjadi Hak ALLAH
--------------------------------
Maka..
Ia tidak boleh bersifat Roh akan tetapi harus bersifat DZAT
--------------------------------
Jadi..
Yang bersifat Dzat itulah yang di turunkan oleh ALLAH di dalam dada atau hati manusia,
--------------------------------
Siapakah dia..?
Apakah AL-QUR'AN yang berbentuk Jirim..?
atau Jisim ?
atau Jauharul Fardhi ?
atau Jauharul Basits ?
--------------------------------
Jika AL-QUR'AN itu berbentuk seperti istilah di atas..
maka apakah dia sebenarnya yang di masukan oleh Allah di dalam hati manusia atau di dalam dada manusia..?
--------------------------------
Kita wajib mengetahui hal ini sebab dia berada di-dalam diri kita sendiri, dan juga menjadi Panduan Hidup kita…, Jika ia sebagai panduan hidup manusia.., maka dapat kita katakan bahwa dia itu menjadi panduan kepada ROH, AKAL, NAFSU dan TUBUH yang terdiri dari tulang, daging, urat, darah, rambut, dsb,
--------------------------------
Tanpa ia semua yang ada pada sebuah batang tubuh manusia menjadi tiada berarti sama sekali,
Oleh sebab itu-lah dikatakan agar mencari sesuatu di dalam Diri..
--------------------------------
Apa yang dicari dalam Diri..?
Ini adalah isyarat untuk memahami bahwa AL-QUR'AN itu ada di dalam hati manusia dan ada di dalam dada manusia,
--------------------------------
Mungkin awal-nya kita merasa sulit untuk memahami bahwa AL-QUR'AN itu ada di dalam Diri manusia, Walau apapun itu…… inilah ketentuan ALLAH dalam AL-QUR'AN ,
--------------------------------
Tapi…
Dalam bentuk apa ..?
Jika berbentuk AL-QUR'AN sebagaimana yang kita ketahui (bentuk kitab yang ada huruf dan rupa) Maka itu adalah MUSTAHIL, karena tidak mungkin AL-QUR'AN ber-bentuk spt itu di masukan ke-dalam jasad kita.
--------------------------------
AL-QUR'AN adalah panduan hidup dan mati manusia…
--------------------------------
AL-QUR'AN adalah Kalam Tuhan, yang bersifat NUR untuk seluruh alam ciptaan Tuhan..
--------------------------------
Bagi orang yang berfikir.. akan melihatnya sebagai sesuatu yang Benar dan Suci dan Bersih dengan tiada keraguan terhadapnya,
--------------------------------
Oleh karena itu layak-lah AL-QUR'AN di namakan Kalam yang Qadim yaitu Kalamullah,
--------------------------------
Rasullullah sendiri tidak akan ber-bicara melainkan pembicaraan-nya adalah AL-QUR'AN ini ber-arti berbicara yang benar dan Haq itu di dalam AL-QUR'AN
--------------------------------
Ada ayat yang meng-gatakan AL-QUR'AN ini sebagai Hablillah (tali Allah) yaitu tali yang mengaitkan antara hamba dengan Tuhannya.
--------------------------------
Jika tali ini tidak di pegang teguh..
maka akan bercerai berai-lah manusia bersama Allah.
--------------------------------
Sedangkan..
Hablillah ini mengenal Tuhan-nya sejak dari alam ROH dan ROH-lah yang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Rabbi yaitu Tuhan yang mencipta-nya,
--------------------------------
Kalam-Nya tidak pernah dusta..
Sebagaimana Rasullullah bersabda tidak mengikut perasaan-nya melainkan mengikut panduan AL-QUR'AN semata-mata,
__________________________________
KESIMPULAN :
AL-QUR'AN itu bukanlah berbentuk Jirim, Jisim atau Jauhar yang Fardhi karena istilah tersebut adalah berbentuk dalam wujud ke-benda-an.
--------------------------------
AL-QUR'AN yang di maksud-kan oleh ALLAH swt ini bukanlah berbentuk kitab yang ber-jilid dan naskah, akan tetapi ia adalah berbentuk JAUHAR yang sulit untuk di lihat dengan mata kasar.
--------------------------------
AL-QUR'AN tersebut adalah berbentuk Zat, karena Basits itu adalah sebagian dari pada Zat yang di ujud-kan oleh ALLAH dan sesuai dengan Asma ALLAH yang Ma’anawiyah di samping ia adalah IMAM
--------------------------------
Fungsi-nya sebagai IMAM atau Pemimpin sebagaimana yang di kehendaki oleh ALLAH pada setiap muslim menjawab-nya ketika di tanya oleh malaikat Mungkar dan Nangkir di dalam kubur atau berbentuk Hablillah (tali Allah).
--------------------------------
Karena ia IMAM maka ia adalah makhluk yang bertaraf Zat Di alam ROH…
--------------------------------
Ketika ROH itu di tanya oleh ALLAH swt (QS. Bani Isroil ayat 85 dan 86) Maka yang menjawab pertanyaan tersebut ialah yang menjadi ketua atau IMAM kepada ROH, AKAL dan NAFSU
--------------------------------
AL-QUR'AN adalah NUR MUHAMMAD atau HAKEKATUL MUHAMMADIYAH atau di kenal sebagai NYAWA atau NAFS kepada sumber segala kehidupan (Al-Basit)
--------------------------------
Maka dia juga di kenal sebagai makhluk La Yakhluqu = Zat yang tidak menjadikan sesuatu (An-Nahl ayat 17),
--------------------------------
Yang jelas…
AL-QUR'AN yang di masuk-kan oleh ALLAH ke dalam DIRI manusia itu ialah :
--->
NUR MUHAMMAD atau HAKEKATUL MUHAMMADIYAH atau DIRI KEBATINAN manusia yang sebenarnya atau DIRI SEBENAR DIRI yang tidak menanggung dosa.
Karena ia adalah makhluk bertaraf Dzat
--------------------------------
maka..
Ia tidak terkecuali dari beribadah kepada Allah swt ,
--------------------------------
Karena..
Ia beribadah dengan nama Shuhud kepada Wahdah dan juga Kasrah dan Sir.
--------------------------------
Ia juga-lah yang di kenal sebagai NAFSAHU pada ayat mengenal diri dan Tuhan,
--------------------------------
Ia juga-lah yang di kenal sebagai INSAN yang Sempurna yang tidak ada cacat dan celanya.
--------------------------------
ALAM adalah firman ALLAH yang tak tertulis (ayat-ayat KAUNIYAH)
AL-QUR’AN adalah ayat-ayat KAULIYAH. Semua ALAM SEMESTA ter-kandung dalam Asma ALLAH ( BISMILLAH )
--------------------------------
Asma terkandung Kehendak …
Kehendak terkandung dalam Sifat…
Sifat terkandung dalam Af’al
Af’al terkandung pada Dzat
Semua itu adalah HIJAB,
--------------------------------
Karena Asma, Sifat, Af’al bukanlah DZAT itu sendiri …
--------------------------------
Itulah yang dimaksud bahwa segala yang tergambarkan adalah HURUF, dan merupakan HIJAB..
--------------------------------
Sedangkan Dzat berada dibalik TITIK …
Dzat tidak bisa digambarkan oleh sesuatu, …
--------------------------------
Untuk mengetahui Zat ALLAH kita harus MENYINGKIRKAN HURUF dan TITIK.

.
(TUAK ILAHI)

{BayanNafi}

بسم الله الرحمن الرحيم



Bab ini suatu pasal pada menyatakan suatu risalah penyempurna pada menyatakan jalan sekalian Arif billah mengenal Haq Allah Ta’ala.

Adapun ahdiah dan wahdah dan wahdiah dan Alam Arwah Alam Misal Alam Ajsam dan Alam Insan. 
Adapun Ahdiah itu zat Allah Ta’ala martabatnya Lata’yun dan Wahdah itu sifat Allah ta’ala martabatnya ta’yun awal dan Wahdiah itu asma’ Allah Ta’ala martabatnya Ta’yan tsani, dan Alam Arwah Alam Misal Alam ajsam dan Alam insan itu Af’al Allah Ta’ala.
Adapun Ahdiah itulah sebenar benarnya insan dan insan itulah manusia dan sebenar benarnya manusia itulah Allah dan sebenar benarnya Allah itulah sifat Allah dan sebenar benarnya sifat Allah itulah zat Allah dan sebenar benarnya zat Allah itulah wujud Allah dan sebenar benarnya wujud Allah itulah Af’al Allah Ta’ala dan sebenar benarnya Af’al Allah Ta’ala itu inilah adanya, jangan syak dan sangka. 
Jangan syak lagi kita insan ini, kita inilah sebenar benarnya manusia dan kita inilah sebenar benarnya Allah Ta’ala dan inilah sifat Allah Ta’ala kita inilah zat Allah Ta’ala ........Jangan syak.
Kita inilah yang bernama anak panah emas, ulunya ma’nikam batangnya zamrud talinya perak, Jangan sangka dan kita inilah Allah dan kita inilah zat Allah dan kita inilah Ganah zat Allah Ta’ala, janganlah syak dan daripada sekalian Asma’ yang tersebut itu maka sampailah ganah kepada zat Allah Ta’ala .... janganlah syak dan kita inilah zat sendirinya dan kita inilah wujud Allah Ta’ala dan kita zat Allah Ta’ala dan kita inilah Af’al allah Ta’ala.
Adapun Ahdiah itu Hakikat Allah dan Wahdiah itu Hakikat Muhammad dan Wahdiah itu Hakikat Insan.
Adapun Ahdiah martabat Lata’yun dan Wahdah martabatnya ta’yun Awal dan Ahdia martabatnya Ta’yun tsani dan kita inilah yang bernama Muhammad dan Muhammad inilah bayang bayang Haq Ta’ala, karena Ruhulquddus itulah sebenar benarnya Muhammad dan Ruhul quddus inilah yang sebenar benarnya Haq Ta’ala, Ruhulquddus inilah tubuh Haq Ta’ala dan Haq Ta’ala inilah sebenar benarnya Muhammad Rasulullah karna ilmu Haq Allah Ta’ala dan yang berkata inilah Muhammad Rasulullah ... jangan syak dan sangka, barang siapa syak menjadi kafir na’udzubillahminha maka keluarlah ia daripada umat Muhammad dan inilah sebenar benarnya Muhammad, apabila sudah i’tiqad demikian maka kita haramlah merasai mati, inilah yang sudah kiamat akhir dan haramlah kepada kita siksa dan haramlah kepada neraka... jangan syak, inilah ma’rifat yang sudah dan kita inilah i’tiqad yang sempurna dan i’tiqad segala ahli sufi dan arifbillah dan kita inilah rahasia yang sebenar benarnya tiada lain daripada ingat Allah dalam Allah, janganlah lagi syak.

Inilah ilmu rahasia Hak Subhanahuata’ala yang diturunkan oleh Syeikh Abdul Qadir Al Jailani yang ditunjuk Allah. Dan kita inilah. 

Janganlah dikatakan sana sini melainkan gurunya dengan murid maka dapat dikatakan ia janganlah sangka kita inilah yang bernama insan kamil dan kita inilah yang menanggung rahasia Allah Ta’ala, maka sekalian ini kita belaka jibril, mikail, irrofil, izrail itupun kita belaka, Iman Islam kita belaka dan Sir cita cita Rasa, ‘isyiq, asyiq, masyuq pun kita belaka dan wadi madi mani ma’nikam suatu juga, tanah api air angin pun kita belaka dan syari’at thariqad hakikat ma’rifat pun kita belaka, awal akhir zahir bathin pun kita belaka, dunia akhirat syurga neraka pun kita belaka, wujud ‘ilmu Nur dan /syuhud suatu juga, alam arwah alam misal alam ajsam dan alam insan suatu juga kepada nubut insan kamil mukamil menzahirkan Allah dan nama Muhammad lagi pula tersurat nama Allah dan Muhammad kepada tubuh insan lagi pula ghoib Allah kepada Muhammad, Muhammad ghoib kepada Allah karna Allah dan Muhammad itu tiada bercerai barang suatupun.
Dan lagi pula nyawa tumbuh tumbuhan dan segala binatang itu tubuh kepada perempuan dan nyawa perempuan itu tubuh kepada kita dan nyawa kita itu berubah lima kali pada sehari semalam, pertama waktu subuh kepada ujung sulbi duduknya, dan waktu dzuhur itu kepada antara pusat dengan tulang belakang duduknya dan waktu ‘ashar itu kepada tengkuk duduknya dan waktu maghrib itu kepada antara kedua kening duduknya dan i’sya kepada ubun ubun duduknya sampai sembahyang witir itu kepada fuat duduknya Wallahi demi Allah Rasulullah, janganlah syak lagi.

[RISALAH KUNO ALIF TUA}]

بسم الله الرحمن الرحيم

RISALAH KUNO ALIF TUA
-------------------------------------------
MUKADIMAH
----------------------
1) Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahi fii kulli hiinin, wa awqaat, wash sholaatu 'ala rosuulihi asyrofil kholqi wal bariyyaati
----------------------------------------
2) Bismillahirrohmanirrohim : disunahkan membaca basmalah disaat hendak mengerjakan semua pekerjaan yang tidak dipandang hina. Jika lupa membacanya pada permulaan pekerjaan, maka boleh membaca di tengah-tengahnya dengan bacaan : Bismillahi awwalahu wa akhirohu
----------------------------------------
3) Alhamdulillahi fii kulli hiinin : segala puji bagi Allah di setiap waktu, yakni segala waktu, baik yang berjangka pendek maupun panjang.
----------------------------------------
4) Wa awqaat : dan di setiap masa, yakni masa yang terbatas lamanya.
----------------------------------------
5) Wash sholaatu 'ala rosuulihi : salawat atau rahmat, yakni belas kasihan, baik dari Allah maupun selain-Nya, tercurahkan kepada Rosul-Nya saw yang diutus untuk semua mahluk.
----------------------------------------
6) Asyrofil kholqi : mahluk yang paling mulia, yang dimaksud mahluk adalah semua yang diciptakan oleh Allah berdasarkan kehendak-Nya dan dituntut oleh hikmah-Nya.
----------------------------------------
7) Wal bariyyaati : dan semua hamba ciptaan Allah lainnya, yakni semua mahluk secara mutlak atau yang ada di bumi. Pada garis besarnya baginda kita, Nabi Muhammad saw adalah mahluk Allah yang paling utama secara mutlak.
----------------------------------------
8) Bermula syariat tariqat hakikat dan makrifat itu terlalu mulia, Itulah pakaian Wali Ambiyya, Barangsiapa dapat asalnya, Bolehlah membawa badan serta nyawa
----------------------------------------
9) ALASTUBIRABBIKUM : Katakanlah bahwa Aku ini adalah tuhan mu
----------------------------------------
10) KALUBALA : Benar engkau itu adalah tuhanku
----------------------------------------
11) SHAHIDNA : Menyaksikan
----------------------------------------
12) Kalaulah benar engkau menjadi saksi
Dimanakah bukti hendak diteliti
Sungguhpun engkau bercerita jalan mati
Manakah mungkin hidup akan kembali
Engkau pahamilah dengan teliti
Kelak dapat membuka yang tersembunyi
----------------------------------------
13) Adapun mengenal diri itu dimulai dari mengetahui asalnya diri. Asalnya diri itu ialah dari anasarnya Api, Angin, Air, Tanah, maka turunlah Tanah itu menjadi Tubuh, Angin itu menjadi Nafas, Air itu menjadi Darah, Api itu menjadi Rasa
----------------------------------------
14) Adapun kejadiannya TANAH itu bernama BARBA, menjadi Syari’at. Adapun kejadiannya ANGIN itu bernama ABDU ISAMAS, menjadi Tharikat. Adapun kejadiannya AIR itu bernama SABANTAHURAN, menjadi Hakikat, Adapun kejadiannya API itu bernama NUR KADIM, menjadi Ma’rifat
----------------------------------------
15) Syariat itu umpama Kaki, Tarikat itu umpama Tangan, Hakikat itu umpama Tubuh, Ma’rifat itu umpama Kepala
----------------------------------------
16) Adapun Diri Terdiri itu Rahasia namanya, Diri Tajalli itu Roh namanya, Diri Terperi itu Hati namanya, Diri Diperikan itu Tubuh namanya
----------------------------------------
17) Syari’at itu adalah Manusia yang Pertama, Tarikat itu adalah Hakikat yang Muncul, Hakikat itu adalah Asma Allah, Ma’rifat itu adalah Aku semata
----------------------------------------
18) Yang bernama ASYHADU itu adalah Lidah, ALLA itu adalah Badan, ILLAHA itu adalah Hati, ILLALLAH itu adalah Roh, dan HUWA itu adalah Rahasia (titik nuktah)
----------------------------------------
19) Maka tatkala bermula kisah TITIK NUKTAH itu ialah dari Otak bapak, maka dalam Otak itu ada Lemak, Dalam Lemak ada Minyak, Dalam Minyak ada Nur, Dalam Nur ada Nur Akal, Dalam Nur Akal ada Hizabbannur, Dalam Hizabbannur ada Hidayamul Amanah
----------------------------------------
20) Lalu turun menjadi titik NUKTAH, turun ke Tulang Belakang turun ke Watsulbi Muntarait turun ke Tulang Dada turun lagi ke Pusat terus ke Kalam, maka berpindahlah titik NUKTAH itu kedalam Rahim Ibu 9 Bulan + 9 hari atau 7 Bulan + 7 hari
----------------------------------------
21) Tatkala 1 hari HU namanya, 3 hari ALLAH namanya,7 hari INNALLAH namanya (hanya Allah), 4 bulan + 4 hari TURABBUNNUR namanya (Tanah Nur), tatkala7 bulan + 7 hari SUBHANALLAH namanya (Maha Suci Allah), 8 bulan + 8 hari ALHAMDULILLAH namanya (Puji Bagi Allah), 9 bulan + 9 hari INNA ANNA AMANNA namanya (Sesungguhnya Aku beriman atau Pembawa Amanah Allah)
----------------------------------------
22) Lalu terbitlah Ujud yang artinya Ada, Mustahil Tiada, Mana yang Mustahil tiada itu, yang mustahil tiada itu adalah prasangkamu saja sebab tidak memahami Aku
----------------------------------------
23) Jadi yang sebenar-benarnya Ujud itu ialah Ada, yang sebenar-benarnya Ada itu adalah Diri, Diri itu ialah Nyawa atau Roh, Nyawa atau Roh itu adalah Muhammad, Muhammad itu adalah Allah, Allah itu adalah segala Sifat Allah, segala Sifat Allah Ta’ala itu adalah Dzatullahita’ala
----------------------------------------
24) Adapun Sifat Allah Ta’ala itu adalah wujud Allah Ta’ala yang mempunyai Wujud dan hakikat daripada segala yang ada, besar maupun kecil
----------------------------------------
25) Bagaimanapun juga pada pandangan lahir maupun bathin adalah sebenar-benarnya termasuk satu sifat yang sempurna, tidak bertulang, berdaging, berdarah, atau berkulit, jadi yang berbagai sifat dan warna adalah hanya satu, menurut yakin Ma’rifat
----------------------------------------
26) Adapun yang bernama Wujud Hakiki itu yaitu Dzatullahita’ala dan Wujud Hakiki itu mustahil pada pandangan awam, Wujud majazi itu tidak ada pada pandangan wujud hakiki
----------------------------------------
27) Wujud ‘Am (umum) itu meliputi pada alam, dan nyata pada Dzatullah, Adapun yang sebenar-benarnya dzatullah itu yaitu Allah, Adapun yang sebenar-benarnya Allah itu yaitu Muhammad, Adapun sebenar-benarnya Muhammad itu yaitu Manusia, maka itulah sebabnya manusia dilebihkan Allah Ta’ala dari pada semesta sekalian alam ini, karena asalnya kejadian sekalian itu daripada Muhammad
----------------------------------------
28) Maka dari itulah titik NUKTAH adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut Sulbi dan Taraib, jadi NUKTAH itu awal mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam sehingga para Ulama terdahulu berpendapat yaitu :
----------------------------------------
29) Nuktah adalah salah satunya Zat Penjelmaan dari dua macam zat (sulbi dan taraib), Dengan adanya KUDRATULLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak dan yang menjadi IRADATULLAHI yaitu berasal dari ibu
----------------------------------------
30) Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudratnya kaum bapak, karena kaum ibu ini hanyalah iradat maka ulama mengistilahkan Surga itu di Atas Telapak Kaki Ibu, untuk lebih jelasnya saya terangkan bagian-bagian dari maksud yang diatas :
----------------------------------------
31) Bagian bapak itu WADI, MADI, MANI, MUTU Atau disebut SULBI, dan bagian ibu itu TANAH, ANGIN, AIR, API atau disebut TARAIB, bagian Allah itu ROH IDHAFI, ROH ROHANI, ROH RAHMANI, ROH JASMANI, bagian DARI GUDANG RAHASIA itu disebut "MUTU MANIKAM"
----------------------------------------
32) Asalnya Api itu yaitu NAPAS Hurufnya Alif Kalimatnya LA, dan asalnya Angin itu yaitu TANAPAS Hurufnya Lam Awal Kalimatnya ILLAHA, asalnya Air itu yaitu ANPAS Hurufnya Lam Akhir Kalimatnya ILLA, serta asalnya Tanah itu yaitu NUPUS Hurufnya Ha Kalimatnya ALLAH
----------------------------------------
33) Wadi Ma'anni kalimatnya LAA ILAHA, Madi Ma'annawiyah kalimatnya ILALLAH, Mani Sulbi kalimatnya ALLAH, serta Mutu Salbiyah kalimatnya HU
----------------------------------------
34) Ruh Jasmani Kalimatnya (YAHU), Ruh Rahmani Kalimatnya (IYAHU), Ruh Rohani Kalimatnya (YAMANIHU), Ruh Idhafi Kalimatnya (YAMAN LAYISALAHU), serta Mutu Manikam Kalimatnya (MA'DAHU)
----------------------------------------
35) Tujuh Petala Bumi dijadikan 7 (tujuh) Tingkatan Martabat yaitu :
----------------------------------------
36) 1. Sifat Amarah
2. Sifat Lawwamah
3. Sifat Mulhimah
4. Sifat Mutmainah
5. Sifat Radhiyah
6. Sifat Mardhiyah
7. sifat Ubudiyah
----------------------------------------
37) Tujuh Petala Langit yang dimaksud dengan Martabat 7 (Tujuh) yaitu :
----------------------------------------
38) 1. Lathifatul Qolbi
2. Lathifatul Ruuhi
3. Lathifatul Sirri
4. Lathifatul Ahfa
5. Lathifatul Hafi
6. Lathifatul Nafsu Natika
7. Lathifatul Kulu Jasad
----------------------------------------
39) Jikalau tingkatan semacam ini yang kita ambil Hakikatnya pada Alam kecil yang tersembunyi (terahasia) dalam diri kita, maka ulama menamakan sebagai berikut :
----------------------------------------
40) 1. HAYATUN JASADI BIN-NAFASI
2. HAYATUN NAFASI BIR-RUHI
3. HAYATUN RUHI BIS-SIRRI
4. HAYATUN SIRRI BIL IMANI
5. HAYATUN IMANI BINNURI
6. HAYATUN NURI BIL QUDRATI
7. HAYATUN QUDRATI BI MU'ALAMULLAHI TA'ALA DZATULLAH
----------------------------------------
41) Artinya adalah sebagai berikut :
----------------------------------------
42) Asalnya Jasad dari Nafas, Asalnya Nafas dari Ruh, Asalnya Ruh dari dalam Rahasia, Asalnya Rahasia dari dalam Iman, Asalnya Iman dari Nur atau Cahaya, Asalnya Nur atau Cahaya dari Qudrat, serta Asalnya Qudrat dari ke-Baqa'an ALLAH
----------------------------------------
43) Kalimatnya jadi seperti ini :
----------------------------------------
44) Hayatun jasadi hurufnya ALIF kalimatnya LA, Hayatun Nafasi hurufnya LAM AWAL kalimatnya ILAHA, Hayatun Ruuhi hurufnya LAM AKHIR kalimatnya ILLA, serta Hayatun Sirri hurufnya HA kalimatnmya ALLAH
----------------------------------------
45) Hayatun Imani hurufnya Alif (Allah) kalimatnya YAHU, Hayatun Nuri hurufnya Lam (Jibril) kalimatnya IYAHU, serta Hayatun Qudrati hurufnya Mim (Muhammad) kalimatnya IYAHU YAMANIHU
----------------------------------------
46) Dengan demikian apabila kesemuanya ini dilebur kedalam ke-Baqa'an DZAT ALLAH, maka ulama menamakannya sebagai berikut :
----------------------------------------
47) WATUJIBUL jASADI FI FASARAL QOLBI, WATUJIBUL QOLBI FI FASARAL RUHI, WATUJIBUL RUHI FI FASARAL SIRRI, WATUJIBUL SIRRI FI FASARAL IMAN, WATUJIBUL IMAN FI FASARAL NURI, WATUJIBUL NURI FI FASARAL QUDRATI, WATUJIBUL QUDRATI FI FASARAL DZATI FIL DZATI
----------------------------------------
48) Kalau diri manusia itu masih merupakan satu titik Roh Nabati namanya, Kalau ia segumpal darah Roh Jamadi namanya, Kalau ia segumpal daging Roh Wajdi namanya, Kalau ia bergerak Roh Hayati namanya, Kalau ia dilahirkan Roh Hayawani namanya, Kalau ia menyusu Roh Nafsani namanya, Kalau ia berbicara Roh Insani namanya, Kalau ia mempunyai akal Roh Nurani namanya, Kalau ia sampai umur Roh Ruhani namanya, Kalau ia setengah umur Roh Rahmani namanya, Kalau ia berumur 40 tahun Roh Jamali namanya, Kalau ia sudah tua Roh Kulli namanya, Kalau ia mati (mengenal perkataan ma’nawi dari pada mati) Roh Ma’nawiah namanya, Kalau ia di dalam kubur Roh Rabbani namanya, Kalau ia bangun dari kubur Roh Illahiyah namanya, Mengenal salah satu dari semua itu Roh Ruhul Arwah namanya, maka segala galanya ini dengan perintah dari RUHUL QUTUB, dan bernama ROH IDHAFI dan bernama ROH ‘ULWI dan bernama WUJUD IDHAFI dan WUJUD ‘AAMI
----------------------------------------
49) Adapun insan itu asalnya daripada Zat karena haqiqat pada wujudnya, dan haqiqatnya itu esa dengan Zatnya, akan tetapi zahir Zat itu dengan Sifat dan Asma’ dan Af’al
----------------------------------------
50) Maka Zat itu bernama (Wahdah) dan (Wahdah) itu zahir pula dengan (Wahdahniah) dan (Wahdahniah) itu zahir pula dengan (Wahdiah)nya, maka Zat itu bernama (Alam Ruh) dan (Alam Misal) dan (Alam Ijsam) dan (Alam Insan) maka insanlah kesudahan dari martabat yang tujuh itu
----------------------------------------
51) Tatkala NUKTAH itu duduk didalam belum Zaratul Qalimuhum namanya, dan tatkala keluar daripada belumnya itu (seNuktah Awal ) namanya, dan tatkala turun kepada bapak duduk sama tengah kepala bapak kita itu (Mahmud) namanya, dan tatkala sehari dikandung oleh bapak kita itu maka turun pula kepada dahi bapak kita itu (Qiblatul Awal) namanya, dan tatkala tiga hari turun pula kepada mata bapak kita itu (Nurul Awal) namanya, dan turun pula kepada rahim ibu kita empat puluh hari dikandung ibu kita (Alqah) namanya, dan sampai tujuh bulan dikandung oleh ibu kita (Mudhograh) namanya, dan sampai pula lapan bulan dikandung ibu kita (Hiula) namanya, maka masuklah (Insan) namanya (Muhammad) pun namanya jua
----------------------------------------
52) Pada waktu Subuh dan waktu Zohor itu keluar daripadanya huruf ALIF, Nabi Allah Ibrahim, cahayanya merah, asalnya daripada Alqah, yakni dari daging segumpal, rakaat yang empat itu sebab Tajali Wujud, Ilmu, Nur, Shuhud
----------------------------------------
53) Dan adapun pada waktu Asar itu keluar daripadanya LAM, Nabi Allah Yunus, asal daripada Mudhograh, yakni daging segumpal, cahayanya kuning, rakaat yang empat itu sebab Tajali Api, Angin, Air, Tanah
----------------------------------------
54) Dan adapun pada waktu Maghrib itu keluarnya daripada HA, Nabi Allah Isa, cahayanya hijau, asal daripada Azhimah, yakni Tulang, Kulit, Roma, rakaat yang tiga ini sebab Tajali Ahadiah, Wahdah, Wahdiah
----------------------------------------
55) Dan adapun pada waktu Isyak itu keluarnya daripada MIM, Nabi Allah Musa, cahayanya hitam, asal daripada Hiuala, yakni rupa lembaga Nabi Allah Adam, rakaat yang empat itu sebab Tajali Wadi, Mazi, Mani, Manikam
----------------------------------------
56) Dan adapun pada waktu Subuh itu keluarnya daripada DAL, Nabi Allah Adam, cahayanya putih, asal daripada Nuthfah yakni Air Mani, rakaat yang dua itu sebab Tajali Zat dan Sifat
----------------------------------------
57) Tatkala sempurna kejadian insan itu maka keluar Nafasnya itu apa kerjanya dan tatkala ia masuk itu apa kerjanya, maka tatkala ia keluar itu kerjanya Meliputi Alam dan tatkala ia masuk itu kerjanya Memenuhi Alam
----------------------------------------
58) Dan tatkala ia keluar itu bertemu dengan apa dan tatkala ia masuk itu bertemu dengan apa, maka adapun tatkala ia keluar itu Bertemu Dengan Rahman dan tatkala ia masuk itu Bertemu Dengan Rahim
----------------------------------------
59) Dan tatkala ia keluar itu apa yang dinyatakan olehnya dan tatkala ia masuk itu apa yang dinyatakan olehnya, maka adapun tatkala ia keluar itu menyatakan dirinya Sifat Zat dan takala masuk itu menyatakan dirinya Zat yaitu dengan segala Sifat Qadim, Biwujudlillah yaitu Sifat Ma’ni dan Sifat Zat itu Wujud
----------------------------------------
60) Takala ia keluar itu kira kira satu hasta jauhnya ataupun satu jengkal jauhnya ataupun enam jari jauhnya ataupun empat jari jauhnya apa namanya itu, maka adapun tatkala keluar satu hasta itu Nafas namanya dan tatkala satu jengkal itu Tanafas namanya dan tatkala enam jari itu Ampas namanya dan tatkala empat jari itu Nufus namanya
----------------------------------------
61) Maka adapun tatkala ia keluar satu hasta jauhnya itu apa cahayanya dan tatkala satu jengkal itu apa cahayanya dan tatkala enam jari apa cahayanya dan tatkala empat jari itu apa cahayanya, dan adapun tatkala ia keluar satu hasta itu cahayanya Kuning dan tatkala satu jengkal itu cahayanya Putih dan tatkala enam jari itu cahayanya Merah dan tatkala empat jari itu cahayanya Hitam
----------------------------------------
62) Bagaimana cahaya yang Kuning itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Putih itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Merah itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Hitam datang ia daripada tempat yang mana, maka adapun cahaya yang Kuning itu datang ia daripada Jantung dan cahaya yang Putih itu datang ia daripada Hati dan cahaya yang Merah itu datang ia daripada Buah Kayu Sanubari dan cahaya yang Hitam itu datang ia daripada hempedu
----------------------------------------
63) Dan adapun Nafas yang keluar masuk itu Lima bagian sebelah Kanan dan sebelah kiri dan adapun sebelah kanan itu satu keluar sebelah atas dan satu keluar sebelah bawah dan satu keluar sama tengah, maka adapun ia keluar sebelah atas itu putih rupanya dan apabila ia keluar sebelah bawah hitam rupanya dan apabila ia keluar sebelah kanan kuning rupanya dan apabila ia keluar sebelah kiri merah rupanya
----------------------------------------
64) Maka jikalau kita duduk dirumah keluar nafas kita itu sebelah kanan melainkan laki-laki yang merah kulitnya datang kepada kita, jikalau ia membawa jenis barang makanan yang dibawanya kepada kita itu dengan warna merah rupanya
----------------------------------------
65) Dan jikalau keluar nafas disebelah kiri kita itu jikalau perempuan yang datang kepada kita itu melainkan rupanya kuning, maka barang yang dibawanya itu pun kuning jua
----------------------------------------
66) Dan jikalau nafas kita itu keluar disebelah atas melainkan laki-laki yang putih kuning kulitnya yang datang kepada kita, maka jikalau ia membawa jenis barang kepada kita dengan warna putih ataupun sebagainya
----------------------------------------
67) Demikian lagi jikalau nafas kita keluar disebelah bawah melainkan laki-laki yang hitam kulitnya datang kepada kita, maka jikalau ia membawa jenis barang makanan itu dengan rupanya hitam warnanya
----------------------------------------
68) Demikian juga kalau nafas kita keluar itu terpecah dua ataupun tiga melainkan alamatnya datang orang kepada kita dua ataupun tiga orang
----------------------------------------
69) Demikian juga jikalau nafas kita yang sama tengah itu keluar halus seperti jarum rasanya inilah yang amat baik, yakni Ketika Selamat namanya
----------------------------------------
70) Dan demikian jikalau nafas kita itu keras rasanya disebelah kanan maka tiba-tiba datang orang itu kepada kita membawa khabar hal yang tidak baik
----------------------------------------
71) Maka orang itu duduk disebelah kiri kita, maka nafas kita pada masa itu keras sebelah kanan kita, maka khabar orang itu dusta belaka
----------------------------------------
72) Maka jikalau ia duduk disebelah kira maka nafas kita pun keras disebelah kiri juga, maka khabar itu nyatalah sungguhannya, tiada ia berdusta sama sekali
----------------------------------------
73) Tatkala nafas kita keluar itu Jibril namanya dan tatkala masuk itu Jibrail namanya, dan waktu yang mana dinamakan Jibrail dan waktu yang mana dikatakan Jibril, adapun waktu ia membawa firman Tuhan kepada hambanya inilah dinamai Jibrail dan waktu ia menerima puji hambanya itu serta membawa mengadap Tuhan nya inilah dinamai akan dia Jibril
----------------------------------------
74) Tatkala nafas kita itu keluar disebelah kanan Jibrail namanya dan takala ia masuk itu Mikail namanya dan takala ia keluar disebelah kiri itu Israfil namanya dan takala ia masuk Izrail namanya, dan adapun Istana Nafas itu didalam Otak, inilah yang bernama Ruhul Nafsi cahayanya putih
----------------------------------------
75) Dan adapun perbedaan Ruh dengan Nafas itu berlainan, yakni nafas itu keluar dan masuk, dan adapun Ruh itu tiada keluar dan tiada masuk, tetapi Ruh itu pergi datang pada Jalan Bathin, Yakni diibarat seumpama kita masuk pada Alam Khayal dan Alam Misal, seperti kita melihat saudara di negeri yang jauh terbang ke udara dengan tiada bersayap
----------------------------------------
76) Demikianlah sabit Hayyat itu adanya, tiada ada didalam dan tiada diluar dan tiada diatas dan tiada dibawah karena kita ini tempat menerima Tajali Tuhan jua adanya
----------------------------------------
77) Maka diri yang Bathin itulah nyawa kita maka tiadalah dapat kita lihat dengan mata kepala kita karena tidak ada warna padanya akan tetapi kita ketahui diri yang Bathin itu kenyataannya pada diri yang Zahir jua
----------------------------------------
78) Tatkala kita lihat sifat yang Zahir itu seperti hidup dan tahu dan kuasa dan berkehendak dan mendengar dan melihat dan berkata-kata dan gerak dan diam itulah nyata pada diri kita yang Zahir, itulah sifat diri kita yang Bathin
----------------------------------------
79) Maka tatkala itu kita lihat nyata pada diri kita yang Zahir sifat diri kita yang Bathin itu tiada didalam dan tiada di luar dan tiada di atas dan tiada di bawah dan tiada di kiri dan di kanan melainkan hendaklah kita ketahui dengan yakin bahwa ada diri kita yang Bathin itulah Nyawa kita, yakni bayang-bayang Sifat Tuhan
----------------------------------------
80) Maka adalah kelakuan Sifat Tuhan itu nyatalah pada diri kita yang Bathin dan bagaimana kelakuan sifat diri kita yang Bathin itu nyata pada diri kita yang Zahir, maka jikalau kita hendak melihat kelakuan diri kita yang Bathin melainkan hendaklah kita masuk kepada Alam Khayal ataupun Alam Misal melainkan dapatlah kita melihat kepada kenyataan Sifat Tuhan
----------------------------------------
81) Apabila sudah faham yang demikian itu maka kita ketahuilah hidup Badan itu dengan sebab hidup Nyawa dan tahu Badan itu dengan sebab tahu Nyawa dan kuasa Badan itu dengan sebab kuasa Nyawa dan berkehendak Badan itu dengan sebab berkehendak Nyawa dan mendengar Badan itu dengan sebab mendengar Nyawa dan melihat Badan itu dengan dengan sebab melihat Nyawa dan berkata-kata Badan itu dengan sebab berkata-kata Nyawa dan gerak diam Badan itu dengan sebab gerak diam Nyawa
----------------------------------------
82) Maka apabila engkau sudah faham seperti yang tersebut itu engkau akan mengetahui hidup Nyawa itulah tempat menzahirkan hidup Tuhan dan tahu Nyawa itulah tempat menzahirkan ilmu Tuhan dan kuasa Nyawa itulah tempat menzahirkan Qudrat Tuhan dan berkehendak Nyawa itulah tempat menzahirkan Irradat Tuhan dan mendengar nyawa itulah tempat menzahirkan Sama’ Tuhan dan melihat Nyawa itulah tempat menzahirkan Bashar Tuhan, berkata-kata Nyawa itulah itulah tempat menzahirkan Qalam Tuhan dan berkata-kata yang tujuh itu pada diri kita yang bathin itu seperti nyatalah sifat diri kita yang Bathin dan diri yang Bathin itu sepertilah pada diri kita yang Zahir ini
----------------------------------------
83) Maka engkau ketahuilah dan engkau kenalilah bahwa diri kita yang Bathin itulah Nyawa kita tempat nyata Sifat Tuhan dan diri kita yang Zahir ini tempat tempat nyata Sifat diri kita yang Bathin, maka janganlah engkau cari Tuhan mu itu tempat yang lain pada diri kamu sendiri, maka itu sangat nyata karena sekalian alam ini seperti keadaan engkau jua, tetapi nyata Tuhan mu itu pada diri kamu itu terlebih nyata daripada yang lain karena manusia itu tempat menerima dan menzahirkan SifatNya dan Asma’Nya dan Af’alNya
----------------------------------------
84) Sifat pun Sifat Zat, Asma pun Asma Zat dan Af’al pun Af’al Zat, Qadim keempat-empat itu Esa pada pihak tanazul dan taqarop inilah rahasia orang yang mengenal diri yakni kenal diri yang Zahir dan diri yang Bathin itu tiada mempunyai wujud pada haqiqatnya segala sifat yang tersebut itu sekali-kali melainkan menjadi menghantar kepada bukan tempatnya untuk menjatuhkan hukum, taklik di atas hambanya yang mengerjarkan amar dan nahi maka jadilah wasilah ma’rifat kita pada tiga martabat, Pertama kenal diri yang Zahir dan kedua kenal diri yang Bathin dan ketiga kenal Tuhan
----------------------------------------
85) Maka apabila sudah engkau faham segala yang tersebut itu, melainkan hendaklah engkau meng Esa kan dan menSyahadatkan dan Mujahadah dan Murakabah dan Muqabalah dengan Tuhan mu itu pada dirimu karena ianya jua adanya
----------------------------------------
86) Permulaan nyata pada kita melainkan hendaklah kita senantiasa hadir hati kita kepada Tuhan kita itu jangan sekali-kali lalai baik dalam keadaan duduk dan berjalan dan gerak dan diam kita dan barang sebaginya, maka segala hal tersebut itu berlaku atas diri kita, karena semua perintah Tuhan itu berlaku atas hambanya
----------------------------------------
87) Maka perintah itu adakalanya baik dan adakalanya jahat dan adakala nikmat dan adakalanya rahmat, maka jatuh perintahnya itu diatas hambanya, melainkan wajiblah diatas hamba itu membayar haknya tatkala datang nikmat diatas kita melainkan wajiblah membayar hakNya dengan segera karena kita anugerah daripadaNya
----------------------------------------
88) Maka apabila datang bala diatas kita maka kita pandang dengan haqiqat bahwa bala itu daripadaNya jua, maka wajiblah atas kita membayar hakNya dengan sabar dan redha serta taat
----------------------------------------
89) Maka tatkala datang kebajikan diatas kita maka kita pandanglah kebajikan itu daripadaNya jua, maka wajiblah diatas kita membayar hakNya dengan segera karena semuanya itu adalah anugerahNya
----------------------------------------
90) Maka tatkala datang kejahatan maksiat atas kita maka kita pandang dengan mata hati kita ianya jua yang menjadikan maksiat itu diatas hambanya melainkan wajiblah diatas kita membayar hakNya dengan perbanyak Astaghafirullah Alazhim serta kita minta ampun dan kita minta berlindung kepadaNya jua karena ianya jua yang menjadikan segala jenis yang tersebut itu melainkan ianya jua yang mengampunkan dosanya kita melainkan Ianya jua Tuhan mengasihi akan hambaNya, maka jika tiada hal yang demikian itu niscaya sia-sialah hidup kita dalam dunia ini melainkan menyesalLah kita dalam akhirat dengan tiada berguna lagi karena sekaliannya itu kembali kepada mu jua, baik dan jahatnya
----------------------------------------
91) Maka dari itu ingatlah bahwa Bismillah itu ialah yang bernama Aku atau nyawa Muhammad, Bermula Muhammad itu nyawa manusia, adapun manusia itu tempat tajali Qudrat dan Iradat Tuhan
----------------------------------------
92) Maka segala nyawa manusia itu didalam Qolbi dan bermula Qolbi itu Jantung yakni Rumah Qolbi dan bermula Jantung itu Rumah Nyawa dan bermula Rumah Nyawa itu ialah Aku tetapi Aku itu didalam Qolbi seperti firman Allah "Wa Fi Am Pusakum Apala Tubsirun" Yakni bukankah Aku itu didalam diri kamu mengapa tidak kamu lihat
----------------------------------------
93) Dan bermula Qolbi itu yang bernama HA, bermula yang bernama HA itu Hati, bermula Hati itu ialah bernama Muhammad, maka Nyawa kita dan Sirr kita pada Muhammad dan adapun HU itu ia sendiri tiada sekalianNya
----------------------------------------
94) Maka firman Allah Taala Kun Fayakun maka jadilah Nur Muhammad di dalam Nur Allah Taala setelah lengkap jadi Nur Muhammad, maka Allah pun ghaib didalam Nur Muhammd maka Nur Muhammad pun menilik keelokan dirinya Lam Jalalah maka keluarlah nyawa sekalian alam ini
----------------------------------------
95) Yakni terpancarlah kenyataan Nurnya itu diibarat seperti lampu yang sangat terang maka jika ditatap lampu itu dengan satu tatapan raga yang dibalut dengan kertas berbagai macam warnanya maka cahaya lampu itu akan terpancar pada lobang raga, maka apabila koyak satu kertas pada lobang raga itu niscaya hilanglah cahayanya kembali kepada lampunya
----------------------------------------
96) Maka Nur Muhammad itu ghaib ia pada sekalian badan hamba Allah Taala yang mukmin, yakni bersama dengan cahaya lampu yang terpancar kepada lobang raga yang tersebut dahulunya, dan adapun Hati itu bermula dari Sirr yang Latif di taruhkan Allah Taala bagi manusia di dalam dada pada lambung kiri dan dibungkus dengan daging segumpal serta kenderaan tiap-tiap anggota jasad itu tentaranya adalah Hati karena Hati itu adalah Raja baginya dan Raja itu dua muka
----------------------------------------
97) Satu muka menilik kepada Dirinya dan satu muka menilik kepada Tuhan, maka muka yang awal itu ada di dalam matanya segala rupa Akuan, dan mata Hati itu ialah Akal dan selama Akal itu dibawah perintah Akuan maka Hati itu ditawannya hingga apabila hilang perintah Akuan daripadanya
----------------------------------------
98) Maka hilanglah Akal yang bertambah itu dan zahirlah bekasnya yang ghaib bercahaya dan cahayanya itulah yang dinamakan Nur Ma’rifat, maka meniliklah engkau dengan Nur Ma’rifat yang ditaruhkan didalam Bathinmu itu yaitu mata yang halus dan telah datanglah yang Haq dan hilanglah yang Bathil
----------------------------------------
99) Adapun HA itu daripada Hati dan jika Sirr pun daripada Hati jua karena inilah dikatakan bahwa tatkala Hati itu condong kepada segala keinginan dunia seperti makanan, lemak manis ataupun barang sebagainya, maka tatkala itu dinamai Nafsu dan apabila Hati itu condong kepada segala kebaktian dunia dan akhirat ibadatlah namanya
----------------------------------------
100) Dan tatkala Hati itu birahi kepada Allah Taala syah akan pertemuan itu maka dinamailah ia Ruh, dan tatkala Hati itu memancarkan sesuatu Akal namanya, dan Budi pun namanya, dan tatkala Hati itu mengetahui dirinya itu baik dan jahat dan sakit Hati Yang Halus namanya dan tatkala ia berkehendakan kepada sesuatu Nafsu namanya dan tatkala ia mengetahui Hamba dan Tuhan Qolbi Zarah namanya dan Cermin Ikhlas pun namanya
----------------------------------------
101) Dan Tatkala ia mengesakan Allah Taala Tauhid namanya dan Perisai pun namanya dan tatkala ia melihat Kebesaran Ma’rifat namanya dan Arash pun namanya dan tatkala ia sudah mengetahui Zat dan Sifat dan Asma dan Af’al Ummi Kitab namanya dan Nur pun namanya dan tatkala ia mengetahui Tuhan lengkap sekalian alam tetap dengan Zat dan Sifat yaitu sekalian alam kepada Tuhan Ma’rifat Nur namanya dan Ahadiah Takdir pun namanya
----------------------------------------
102) Dan tatkala ia tetap Ma’rifat dan Tauhidnya Lufh namanya dan Qalamul U’lia pun namanya dan takala ia sudah mengetahui didalam ghaib Qalamul Arash namanya dan Qalam Naps pun namanya dan takala ia tetap ketika didalam ghaib dengan Heran serta tercengang-cengang Iradat namanya dan Qudrat pun namanya dan Rahsia pun namanya
----------------------------------------
103) Takdir Rahasia itu mengembalikan Amanah Kepada Yang Empunya Amanah Amanat namanya dan tatkala ia sudah mengetahui didalam ghaib hamba yang menanggung Amanah heranlah ia akan dirinya Tercegang-cengang Amanat namanya dan Khazaan pun namanya dan tatkala ia mengetahui tubuh dan dirinya Kunhu namanya dan tatkala ia mengetahui keadaan dirinya ada sekalian alam umpama banjir ditengah pasir ataupun seperti sebuah sampan atau perahu di tengah laut Kunhu Kazal namanya dan Qolbi Mukmin pun namanya
----------------------------------------
104) Barang siapa yang bertanya dari mana datangnya ilmu ini sama dengan menanyakan dari mana datangnya Al Quran itu sendiri, jika bingung silahkan anda rujuk langsung ke Allah karena hanya Allah saja yang maha benar yang lain semuanya salah
----------------------------------------
105) dilihat mata buta, didengar tiada suara, diraba tiada rasa, maka kenali diri rata-rata, baru kenal tuhan yang nyata
----------------------------------------
106) Sebagai penutup, sesungguhnya kesempurnaan adalah suatu yang sulit tercapai, dan untuk mencapainya adalah perkara yang sungguh sangat berat, maka barang siapa yang mendapati aib pada Risalah ini segeralah untuk menutupinya, dan barang siapa yang mendapati kekurangan, segeralah menyempurnakannya, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang selalu mengadakan perbaikan
----------------------------------------
107) Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan, dan kepadaNya kita menyandarkan diri. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Semoga shalawat beserta salam dan barakah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya, dan juga keselamatan yang banyak. Wal hamdu lillahi robbil ‘alamiin
----------------------------------------
Disusun oleh : Al Alamah Al Aribillah Al kurtubi Al jandai As Syeh yang dipertuan Agung Abah tuak ilahi Al indragiri